Berjuang atau Menyerah?

Banyak rekan agamis disini mengatakan bahwa Tuhan tidak mungkin diketahui oleh otak manusia yg terbatas ini. Begitu kecil artinya manusia di hadapan Tuhan. Lalu pertanyaannya…: Apakah mungkin dengan daya upaya manusiawi yg terbatas ini (doa, sholat, puasa, tarak, dzikir, dsb) kita mencapai sesuatu tataran yg tak terbatas?
Katakanlah anda berjuang sekuat tenaga. Bagaimanakah mungkin sesuatu yg merupakan usaha si diri yg sangat kuat tersebut mampu menghantar penyerahan diri total kepadaNya?
Bisakah anda melihat pertentangan / kontradiksi disini? Pertentangan yang lead to impossibility?

——–

*Keluhan yang Kusembunyikan* (Memoar seorang Jihadis)

“Aku tahu aku tak berdaya
Aku manusia nista berdosa
Maka aku berjuang sekuat tenaga menghapus dosaku,
tapi kusadari aku begitu tidak sempurna dalam ibadahku
kebajikanku sangat kecil, kusalahkan dunia karena ini
Maka kukeraskan tekad perangku
Walau semakin berupaya keras, ku merasa semakin jauh
ini sungguh mengerikan.

Aku tahu aku manusia lemah
Aku nista dihina
Maka aku berjuang untuk menunjukkan siapa sesungguhnya diri kami
tapi kusadari tiap langkahku semakin menapakkan aib
kebajikan yang kupikir menjadi bumerang
Tiada pilihan, kubulatkan perjuanganku
Namun semakin bulat, kusaksikan dunia mentertawaiku
ini sungguh memuakkan.

Kusangsikan apakah aku terjebak?
Tetapi mengapa serasa begitu buntu?
Lebih baik aku mati
untuk harga diri yang semakin mengeras ini.”

2011 Aug 16,  15.30



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s