Antara Cinta…Kasih dan Sayang

Ketiga istilah ini —cinta, kasih dansayang— seringkali kita rancukan di dalam penggunaannya. Padahal, mereka adalah fenomena mental yang berbeda-beda. Saking halusnya perbedaannya, bagi sementara orang, telah menjadi penyebab utama mengapa mereka sering dirancukan. Dan mungkin karena tidak pasti, atau guna lebih mendekatkannya dengan pendengar atau pembaca, dalam penggunaannya, istilah-istilah itu seringkali dirangkai menjadi sebuah kata-bentukan —cinta-kasih dan kasih-sayang.
 
Tidak seperti cinta, kasih bukan lawan dari benci. Kita bisa mencintai seseorang, sekelompok orang atau sesuatu untuk kurun waktu tertentu, dan kemudian tidak mencintainya lagi, atau malah berbalik membenci. Namun, sekali kita mengasihi seseorang, sekelompok orang atau sesuatu, kita akan mengasihinya selamanya, seumur-hidup.
 
Mencintai sesuatu digerakkan oleh rasa senang yang ditimbulkan oleh sesuatu itu, dimana getar rasa senang itu sendiri bisa lantaran kenikmatan indriawi yang diperoleh melalui kontak dengannya. Sesungguhnya, kenikmatan indriawi inilah yang kita cintai, yang juga berarti kitalekati. Apa yang kita cintai, juga kita lekati. Kemelakatan serupa ini punya daya-lekat yang luarbiasa kuatnya.
 
Namun tidak demikian halnya dengan mengasihi. Rasa kasih tidak dipicu oleh kenikmatan indriawi, atau pemicu luar manapun. Anda tidak mengharapkan kenikmatan indriawi dari yang Anda kasihi. Anda bisa merasakan bentuk kepuasan-batin yang lebih halus, lebih dalam, ketika mengasihi dan dikasihi. Terasa ada resapan rasa aman dan nyaman ketika Anda menerima pancaran kasih bukan? Ini banyak miripnya dengan ketika Anda menerima pancaran rasa sayang. Mungkin oleh karenanyalah mereka seringkali digandeng menjadi ‘kasih-sayang’. Anda tidak melekat pada yang Anda kasihi, walau Anda juga menyayanginya.
 
Sedikit berbeda dengan mengasihi, dalam menyayangi ada unsur ‘pemanjaan’. Kita akan selalu siap memaklumi dan memaafkan yang kita sayangi. Disayang oleh seseorang, kita merasa dimanjakan. Yang menyayangi kita akan dengan suka-rela memenuhi segala permintaan kita, tak peduli apakah itu baik bagi kita atau tidak. Namun, pemanjaan serupa itu belum tentu kita dapatkan dari mereka yang mengasihi kita. Ketimbang mengasihi, menyayangi mengandung nuansa emosional yang lebih kental, walau tak sekental mencintai. Sedangkan, mengasihi punya kandunganrasional yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang dikandung oleh keduanya.
 
Jauh dari maksud merasionalisasikan mereka, semoga tulisan pendek ini mampu memberi gambaran yang cukup guna memilah antara cinta, kasih maupun sayang, sehingga perancauan lebih jauh lagi bisa dihindari. Sangat disadari kalau —khususnya terkait dengan yang serupa ini— apapun deskripsi yang kita berikan kepadanya, deskripsi tetap hanya sebuah deskripsi … jelas bukan ‘yang dideskripsikan’. Mereka hanya bisa benar-benar dipahami perbedaan dan persamaannya dengan merasakannyasecara sadar.
 
Bali, Senin, 18 Desember 2006.

By Ngurah Agung

Published with Blogger-droid v1.7.4


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s