Apakah Atheisme? Definisi sempit Vs Definisi secara Luas Atheisme

  • Pertanyaan:

Mengapa Atheis selalu didefinisikan secara Umum sebagai kurangnya/tidak adanya kepercayaan pada Tuhan, termasuk didalamnya penolakan terhadap adanya para Dewa?

  •  Tanggapan:

Paham Theisme, secara umum didefinisikan sebagai kepercayaan pada adanya paling tidak satu Tuhan/Dewa. Berkebalikan dengan hal ini adalah Paham Atheisme yang dapat didefinisikan secara umum sebagai tidak adanya kepercayaan atas keberadaan Tuhan / setiap Dewa. Kebanyakan ketidaksetujuan atas pendapat ini berasal dari orang-orang Kristen yang bersikeras bahwa ateisme merupakan penolakan atas adanya dewa, atau setidaknya atas adanya Tuhan mereka. Hanya  karena sebatas tidak adanya keyakinan pada Tuhan, mereka mengklaim , baik yang berpandangan agnostisisme – meskipun agnostisisme memiliki definisi tersendiri dan merupakan konsep yang berbeda sekali (dengan Atheisme).

Definisi secara umum dari atheisme yang merupakan definisi paling akurat. Bukan hanya karena menggunakan definisi ateis yang dapat denga mudah diterima, akan tapi definisi ini didukung dengan sesuatu yang komprehensif, kamus lengkap. Tetapi bukanlah karena menawarkan definisi dari kamus tidak berarti bahwa itu merupakan definisi yang “lebih baik”. Kadang kala mungkin untuk beberapa kasus, gagasan bahwa definisi lain akan lebih baik untuk digunakan- mungkin itu dapat menghilangkan kebingungan dan menjadi lebih tepat untuk digunakan, misalnya.

  • Keunggulan dari Definisi Atheisme secara umum.

Untungnya, definisi yang digunakan untuk Atheis yang ditemukan dalam kamus sudah merupakan definisi terbaik – tidak ada yang perlu diubah. Keunggulan dari definisi secara umum atas definisi secara sempit (dari Atheisme) terletak pada kenyataan bahwa hal itu memungkinkan kita untuk menggambarkan (Atheisme) dengan sudut pandang yang lebih luas.

Bagi mereka yang bersikeras pada definisi yang sempit, ada tiga pandangan dasar:

  •     Teisme: keyakinan pada Tuhan (saya).
  •     Agnostisisme: tidak tahu jika dewa-dewa benar-benar ada.
  •     Ateisme: penolakan terhadap Tuhan (saya)

Setelah kami memberikan definisi Atheisme secara umum dan mengakui agnostisisme yaitu tentang pengetahuan dalam hal tidak adanya kepercayaan ( terkait, tetapi dalam permasalahan yang berbeda), kami menemukan bahwa sekarang ada empat kategori yang tersedia:

  •     Agnostik Teisme: keimanan tanpa mengaku yakin bahwa Tuhan itu ada.
  •     Gnostik Teisme: kepercayaan pada Tuhan saat sedang yakin bahwa dewa/Tuhan itu ada.
  •     Agnostik Atheisme: Menolak percaya pada Tuhan tanpa mengakui tahu pasti bahwa Tuhan benar-benar tidak ada.
  •     Gnostik Atheisme: Menolak percaya pada Tuhan saat sedang tertentu ketika Tuhan tidak (bisa atau disebut) bahwa Dia benar-benar ada.

Memang benar bahwa keyakinan manusia adalah kompleks dan kedua sistem diatas sebatas penyederhanaan saja, tetapi pada keduanya dapat diambil satu poin yaitu adanya satu rangkaian pada Keyakinan manusia dan juga memberikan ruang untuk wilayah abu-abu karena mereka dapat mengajukan pertanyaan tentang bagaimana seseorang mungkin memiliki pandangan yang berbeda.

  • Beban Pembuktian

Meskipun definisi sempit ateisme dapat memberikan perdebatan teologis yang lebih menarik, pemahaman yang lebih luas tentang ateisme bukan berarti tidak layak mendapatkan komentar/sangkalan dari kebanyakan Pemikiran paham Theisme. Mungkin hal ini tidak mereka pahami sepenuhnya, tetapi secara sederhana ini karena tidak adanya keyakinan pada Tuhan – selain sebagai pandangan secara  langsung –  secara otomatis dibenarkan dan menjadi kredibel selama Theis tidak menemukan sesuatu yang dapat diterima untuk menunjukan/menjelaskan Tuhan mereka.

Dengan demikian, definisi yang lebih luas dari ateisme menjadi penting karena hal ini secara segera dapat menempatkan seseorang pada sudut pandang mana ia berada: Pada pihak yang menuntut (Theis, dalam kasus ini) apakah komentar yang akan diberikan oleh penuntut cukup baik/bisa untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan lebih lanjut atau bahkan dapat diterima. Dapat dimengerti jika menjadi sangat tidak nyaman bagi seseorang untuk berada pada posisi seperti ini, terutama ketika topiknya  adalah sesuatu yang yang harus diambil oleh seseorang untuk dipaparkan agar menjadi jelas dan benar-benar perlu. Ini, kemudian, akan sangat mungkin menjadi salah satu alasan mengapa seseorang bisa (bahkan tidak sadar) menegaskan bahwa Atheisme tidak bisa begitu saja didefinisikan sebagai tidak adanya kepercayaan pada Tuhan.

  • Bentuk yang berbeda Teisme

Secara alami Atheisme memiliki dua poin ciri klarifikasi lebih lanjut yang melibatkan ide-ide umum tentang theisme. Yang pertama melibatkan gagasan tentang “Tuhan” secara metafora – misalnya, seorang Theis yang percaya pada “Tuhan” sebagai prinsip hati nurani atau moralitas. Pada pandangan ini “Tuhan” ada dalam pikiran seseorang dan hal ini tidak dijadikan permasalahan bagi seorang Atheis. Ateis setuju bahwa Tuhan ada sebagai gagasan dalam pikiran masyarakat; ketidaksepakatan terletak di atas apakah Tuhan benar-benar ada secara independen yang berada diluar dari kepercayaan manusia. Mereka inilah para dewa / Tuhan yang tidak diyakini atau ditolak oleh seorang Atheis.

Jenis kedua Theisme melibatkan dewa yang ada sebagai obyek fisik: batu, pohon, sungai, atau bahkan alam semesta itu sendiri. Orang-orang yang meyakini hal tersebut memperlakukan benda-benda ini menjadi dewa-dewa mereka, tapi apakah orang-orang ateis menolak keberadaan mereka? Tentu saja tidak – tetapi bagaimana mereka tetap memiliki pandangan Atheis? Titik ketidaksepakatan di sini adalah apakah label “Tuhan” memiliki ciri yang dapat disandingkan dengan label yang lebih umum dari “batu,” “pohon,” atau “alam semesta” Jika tidak., inilah yang menjadikan orang-orang ateis prihatin, objek tersebut tidak memiliki ciri daripada “Tuhan” dan menjadikan mereka tetap memilih untuk menjadi Atheis.

Untuk mengulang kesepahaman (karena perlu diulang begitu sering): ateisme adalah tidak adanya kepercayaan akan adanya dewa / Tuhan. Ateis mungkin menegaskan bahwa beberapa dewa / Tuhan atau semua tidak dapat atau tidak bisa eksis, tetapi hal tersebut bukanlah menjadi prasyarat bagi Atheisme dan tidak harus diasumsikan bahwa Atheis tertentu melakukannya. Jika Anda ingin tahu seberapa jauh seseorang menyangkal hal ini, tentang Tuhan atau dewa-dewa, anda dapat memberikan beberapa pertanyaan mudah untuk hal tersebut.

Ateisme menyiratkan adanya sistem kepercayaan yang lebih lanjut – itu berarti hal ini tidak berhubungan dengan politik, filsafat, tidak ada hubungan dengan keyakinan masyarakat, tidak ada hubungan dengan ilmu pengetahuan, tidak ada hubungan dengan agama, atau bahkan bahwa orang yang tidak beragama (karena beberapa agama yang ateistik). Ateis bervariasi sebanyak dalam keyakinan mereka dan sikap yang dilakukan sebagai seorang Theis. Jika Anda tahu bahwa seseorang berpandangan Athteis, maka Anda harus menyadari bahwa ia tidak memiliki kepercayaan pada adanya Tuhan – tidak lebih, tidak kurang.

Transliterasi dari situs About.com ~What is Atheism? Narrow vs. Broad Definitions of Atheism~



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s