Mas, ini yang tak ku ungkapkan tiga hari kemarin.

Mas, aku tidak memulai catatan ini dengan salam kemulian atau kesejahteraan yang kita ingini atau bahkan dengan menyebut tuhan yang saat ini sudah tidak lagi ada_tentu ini menurutku, jika kebenaran tertinggi masih saja kamu pahami ketika membaca buku, lalu sering lupa setelah buku tak lagi dekat dengan tanganmu, yang tanpa kamu sadari kemudian _, itu adalah untuk awal mula perjalanan kita dulu, aku tidak lagi akan memusingkan keadaan kita hanya dengan ucapan palsu, karena perjalanan itu telah dimulai jauh sebelum ini.

Mas, jika saja buku yang telah kita atau sebutlah aku, atau mungkin jika itu buku yang banyak kamu baca sebelum ini, telah memberi kita banyak pengetahuan yang hanya kita pahami ketika itu, lalu ketika dalam pembicaraan-pembicaraan kita buku itu hanya kita ingat dengan jelas hanya dalam susunan huruf dan kata yang kita mengerti, namun pemahaman akan buku itu tidak turut kita bawa dalam pembicaran-pembicaraan kita, maka maafkan aku mas, jika yang kamu inginkan hanya karena kita bersaudara. Mas, maafkan lagi aku_tentu karena aku menjadi adik bagimu_, aku sakit, sakit dalam kesadaranku ketika kamu tak mengenali aku, telah banyak buku yang kita pahami ketika itu_ketika kita membacanya_ tentang ‘ke-aku-an ke-aku-an’ yang tercipta, maafkan aku mas, yang tak mampu melihat monotheisme dalam pemahamanmu. Bahkan bagiku ketika kamu tak memahami adaku dan meributkan ‘ke-aku-an’ nafsuku, aku benar benar sakit karena itu, aku sakit karena kaupun tahu, ‘aku sakit, sepi sendiri itu sakit, karenanya kenalilah aku, jenguklah aku’. Mas, jika tak kau lepaskan dualisme yang kau pegang teguh dalam egoismemu yang tak kau sadari itu, tak sedikitpun aku akan mampu menjelaskan untukmu tentang ku. Mas, aku tak mampu merendah, ini berjalan dengan keseimbangannya sendiri seperti itu, maka kamupun akan memahami apa yang aku katakan ini ketika kamupun mengalami keadaan yang aku jalani, karenanya maafkan aku yang tak mampu mengatakan ini dalam bahasamu.

Mas, akan aku katakan ini,’jika saja masih ada dalam alam pikirmu, bahwa aku ada selain sesuatu yang kamu anggap ada dibalik keadaanku, sehingga ketika keburukan keluar dari ucap lidahku maka itu adalah nafsuku, sesuatu diluar yang menggerakkan lidahku diluar keadaan dibalik keadaanku, maka itu adalah dualisme, karenanya aku adalah keadaan yang menggerakan keadaan dibalik keadaanku, tuhan yang kamu anggap ada itu, tidak lagi ada bagiku’.
Mas, bakarlah buku-buku kita dengan api, jangan dengan kata-kata dilidah, itu sama sekali tidak akan pernah sedikitpun membakar buku yang kita bicarakan.

Mas, karena aku ini adalah adikmu, aku tidak lagi memperdulikan keadaanku dalam perjalanan diriku, kamulah diriku, karenanya, perhatikanlah baik-baik keadaanku untuk perjalanan dirimu, aku tidak lagi memikirkan apa yang aku dapatkan, pikirkanlah apa yang seharusnya kamu dapatkan. Dan sungguh mas, jujurlah, karena kebohonganpun tidaklah berguna, jarak telah membentang diantara kita, jikapun ketidak mengertian memelukmu erat saat ini, maka dengarkanlah, selanjutnya kami yang akan menjelaskannya padamu.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s