Tentang akalmu,

Dimanakah akalmu? Yang sebelum ini kamu katakan, lalu apa maksud dari Tuhan menciptakan akal ?, jikalah segala sesuatu yang telah tercipta ini adalah atas ada-Nya jua. Lalu apakah akalmu mampu mengingkari, bahwa Tuhan-lah yang menciptakan dirimu dan pula menciptakan perbuatan-perbuatan yang kamu lakukan dan menciptakan orang-orang yang memandangmu dan menciptakan pujian ataupun cacian dari bibir-bibir orang yang tercipta untuk memandangmu. Adakah apa yang aku ungkap diawal ini untukmu dapat kamu terima dengan akalmu? Ataukah telah tumbuh berribu sangkalan diranah subur anganmu atas sedikit saja hal yang telah kuungkapkan ini?. Dan jka saja setelah ini tak kuungkapkan bahwa aku mempergunakan akalku(yang akupun sadari ini adalah atas kehendak-Nya, dan berikutnya dibelakang nanti akan pula kamu katan,’jika begitu Tuhan-pun berkehendak agar aku tak mengetahui apa yang kamu ketahui) untuk mengetahui dan memahami segala Penciptaan ini(jikapun semesta ini ada karena tercipta).
Sebelum aku mengungkapkan lebih jauh tentang apapun yang kudapat dari perjalananku mencari Tuhan Pencipta (jikapun kata itu sebagai simbol atas segala ada) Semesta Alam, akankah lebih baik jika aku merumuskan bagaimana nantinya ketika kita menemui perselisihan atas tak selarasnya antara hati (yang termasuk segala rasa didalamnya) dan akal.
Adanya Tuhan adalah sesuatu yang dapat diterima oleh akal ataupun rasa. Adakah hal seperti ini dapat diterima? Karena adanya akal dan rasa adalah untuk mengakui adanya pencipta mereka sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa Tuhan adalah sesuatu yang dapat diterima oleh akal dan rasa.
Lalu bagaimana ketika pada hal berikutnya nanti ada suatu kenyataan yang terungkap, suatu kenyataan yang ada secara nyata, dapat diterima dan diakui oleh akal dan nampak nyata ada secara lahir dan dapat kita rasakan, apakah pantas kita menjadikan sangkalan atas sesuatu tersebut, hanya karena sesuatu tersebut menyakiti hati (rasa/perasaan) saya ataupun anda karena tidak sesuai dengan apa yang kita pahami selama ini? Adakah anda setuju untuk menerima? Atau anda akan tetap menyangkal? Jika anda telah mereka dalam alam hayal anda untuk mengatakan ini,’kita lihat dulu apa yang akan terngkap tersebut?’. Maka cukuplah saya tahu, bahwa sejak awal keingin tahuan anda ini hanya untuk mencari kesalahan dan menyangkal apapun yang akan terungkap.
Karena jika masih ada lagi bijian sangkalan karena apa yang aku ungkapan ini, adakah karena kamu masih menganggapku mengungkapkan kebenaran menurutku sendiri(atau kita sebut bahwa anggapanku apapun itu yang terungkap adalah sebagai kebenaran subjektif diriku sendiri), sedangkan apapun nanti yang akan terungkap hanyalah segala sesuatu yang dapat diterima oleh siapapun disemesta raya ini.
Dan sebenarnya, tidaklah perlu aku ungkapkan rambu-rambu apapun disini atas cerita perjalanan ini karena aku tidak mengajak, siapapun kamu, dalam cerita perjalananku ini, yang tak mampu mengakui kebenaran. Namun karena aku sengaja, secara sadar, ingin membuatmu yang hitam dan gelap mata hatinya, menyangkal tentang apapun yang sebenarnya kamupun merasakan dan dapat menerima rasa apapun nantinya. Dan karena aku tahu pasti egoisme yang ada padamu, seperti yang kamu dapat rasakan, akupun memiliki egoisme seperti yang mampu kamu raba ini. Dan sebenarnya pula, tanpa tergelincirnya satu katapun dari bibirku, adalah aku ini buruk dalam pandanganmu, jika sampai saat inipun, kamu tak mampu memandangku dengan kecintaan. Atau karena kamu menganggap aku yang tidak memiliki kecintaan terhadapmu, tentu kamu dan aku yang tahu pasti isi hatimu. Dan satu hal lagi, jika kamu tak mampu mencerna, dan memandang tatanan kata yang kurangkai ini buruk, tutup matamu dari bait catatan catatan ini.
Sungguh adalah Dia Yang Meliputi semesta raya ini, meliputi partikel-partikel terkecil penyusun semesta raya ini, Yang Maha halus yang meliputi bagian terkecil ion-ion, hingga tak lagi mampu dapat dibedakan antara ion dengan Dzat Tuhan Yang Maha Meliputi Segala Sesuatu, karena Dzat Tuhan telah meliputi secara sempurna bagian terkecil ion, jikapun ion itu dapatlah lagi dipecah-pecah hingga bagian terkecil lagi dan dapat dianggap musnah karena hanya ada Dzat Tuhan Yang Maha Meliputi segala sesuatu. Sungguh adalah Tuhan Dzat yang Maha Tunggal, Yang Esa, Ahad, tak sesuatupun ada kecuali Tuhan itu sendiri, sehingga akalpun mampu menerima, jikalah ada sebutir debu selain adanya Tuhan semesta Alam, maka rusaklah sifat dari Tuhan yang Maha Tunggal (karena ada sesuatu selain-Nya). Sungguh Maha Suci Tuhan Dzat Yang Maha Suci dari Menyerupai Mahluk Ciptaan-Nya, karena Tuhan Yang Maha menciptakan Segala sesuatu tidaklah serupa dengan apapun yang kita ciptakan dialam hayal/angan kita. Dialah Tuhan Dzat Yang Maha Tinggi yang tak terbatas oleh pujian-pujian, hingga tidaklah setiap pujian dapat menyentuh Ke-Maha Tinggian Tuhan Yang Maha Tinggi, hingga dapatlah diartikan bahwa Tuhan taklah membutuhkan bermilyar atau bermilyar lagi dari itu pujian-pujian untuk-Nya.
Dialah Tuhan Yang Menciptakan-mu dan menciptakan apapun perbuatanmu, jikalah dirimu mengimani bahwa baik dan buruk itu adalah dari Tuhan-mu, adakah ini dapat kamu terima?, karena jika ini pun kamu ingkari, tidaklah apa yang akan aku ungkapkan berikutnya nanti dapat berbuah keimanan untukmu melainkan hanya melahirkan sangkalan-sangkalan karena sakit yang tumbuh dihatimu. Bahwa akal bukanlah timbangan untuk mengukur ataupun memilih antara sesuatu yang baik dan buruk, akal adalah alat atau neraca untuk mengetahui antara mana yang benar dan mana yang sebenarnya salah. Bahwa baik dan buruk tidaklah dapat ditimbang dengan akal, melainkan timbangan untuk kedua hal tersebut adalah rasa_nyaman atau tidaknya, atau ambilah kata yang mendekati hal ini, kita menerima sesuatu, hingga menimbulkan keyakinan dalam diri bahwa ini baik, menurut anda, ataupun sesuatu itu menjadi buruk karena tak sesuai atau tidak dapat diterima dengan nyaman_, karena dapat diterima akal bahwa,’apa yang baik menurutmu belum tentu baik menurut Tuhan-mu, dan apa-apa yang kamu dapatkan adalah itu yang terbaik untukmu, karena tak sesuatupun dari Tuhan-Mu yang sia-sia’. Karenanya apa yang menurutmu baik belum tentu itu adalah baik, karena baik yang menurutmu belum tentu orang lain memandangnya baik, akan tetapi sesuatu yang benar dan dapat diterima oleh akal tidaklah akan mampu disangkal oleh siapapun. Karena akal-lah yang akan menuntunmu kepada kebenaran. Dan satu pertanyaan mendasar, adakah kamu akan mengikuti sesuatu jika sesuatu itu tidak dapat kamu terima secara akal(tidak masuk akal)?_Aku tidak mengatakan agamamu tidak masuk akal, karena agama adalah sesuatu yang dapat diterima oleh akal, maka tentulah agamamu itu sebenarnya masuk akal_. Segala ada yang tercipta ini adalah sesuatu yang harus kita pikirkan dengan akal, mencari kebenaran sejati dari segala ada yang tercipta nyata, bukan sekedar mencari mana yang baik menurut kita dan meninggalkan mana yang buruk, karena jika kita tetap pada pemahaman tersebut maka tidaklah kita akan menemukan kebenaran-kebenaran yang tersembunyi, Tuhan mnciptakan sesuatu yang buruk bukanlah kita pilih untuk kita tinggalkan, karena jika itu hal yang kita pilih maka secara tak langsung dan tanpa kita sadari kita telah mengingkari bahwa tak ada kesia-sia an apapun pada apa yang telah Tuhan ciptakan_karena kita telah memilih untuk meninggalkan keburukan, yang menurut kita, bukan kemudian memaknai dan mencari rahasia tersembunyi dibalik sesuatu yang buruk tersebut. Adakah ini dapat diterima secara benar oleh akal dan rasa kita?.
Sungguh, jika Tuhanpun tak menghendakiku untuk mengetahui sesuatu, maka sepertimu, hatikupun akan sakit menerima kebenaran.
Dialah Allah Yang Maha Berkehendak, yang meletakan batu keinginan, pondasi pertama dibangunan akalmu, sehingga kamupun berpikir dan tumbuhlah angan-angan dari itu, hingga dirimupun bergerak dan terciptalah keinginan-keinginanmu yang menjadi nyata karena tumbuhan anganmu (tuhan pula yang menumbuhkan itu) tidak tumbuh melebihi akalmu, dan sebenarnya keinginanmu yang menjadi nyata itu berawal dari kehendak Yang Maha Berkehendak, yang menggerakan keinginan yang telah diletakkannya dihatimu itu berjalan pada koridor yang dapat diterima akal, yang tumbuh angan dari itu dan angan itupun tak tumbuh diluar akal yang dapat diterima oleh akal itu sendiri, lalu nyatalah kehendak Tuhan-mu itu. Mengertikah maksudku? Adalah segala sesuatu ini dari-Nya jua, dan akupun tak dapat mengingkari atau sebutlah menjadikan hatiku sakit karena keingkaranmu atas segala nyata ini. Baik dan buruk adalah dari-Nya jua.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s