Cerita tentang penjual Es lilin dan tukang becak

hari gerimis dan senja beranjak menjemput malam…
kumenepi diberanda temaram dg sedikit penerangan.
sore itu….kubawa beberapa buku utk si kecil yng akan melanjutkan sekolahnya.

masih tak reda juga…gigilku amat melelahkan…
cinta…sedang apa kmu disana..

lamat ku semat percakapan dua orang yng berteduh dalam beranda yg sama..
dia tukang becak dan penjual es lilin…

nak…,.knapa kmu beberapa hari tak pernah pulang…tnya penjual es lilin itu pada tukang becak.
yg kmudian kuketahui bhw itu adalah percakapan bpak dan anaknya.
aku selalu pulang bapak….,bukankah aku selalu tidur dirumah.
aku temani bapak hingga pagi..,” kata tukang becak

benar nak…kamu tak salah…kamu selalu temani bapak ,tapi hatimu telah pergi…
hatimu tak ada dirumah…hatimu prgi nak..

kudengar isak kecil tertahan dari bibir pucat situkang becak.
pulanglah nak….pulang….bapak rindu kamu…hnya kmu yng bapak punya kini.
tak taukah kmu bapak merindukanmu nak…
amat merindukanmu…
apakah kekasih hatimu itukah yng memalingkanmu dari bapak nak…
kenapa…dan ada apa anakku…,” suara bapak sipenjual es lilin itu parau.

pak…..,adakah cinta sejati itu sebenarnya…adakah pak…
jika ada terangkanlah padaku…,” kata si tukang becak dalam sengguk tertahannya…

bapak tak tau nak….jangan tanya itu pada bapak…..”sahut bapaknya lirih..
kulihat sibapak menerawang jauuuh dg tatapan mata kosong.

dia pergi bapak….pergi..
aku tak tau..itu salah siapa…,kata situkang becak sendu.

critakan pada bapak nak..
apa yg sedang terjadi…,kata si penjual es lilin sambil matanya tetap menerawang jauuuuhhh…

pak…..dia begitu baik…sempurna dimataku.
tak ada catatan kasta pada jiwanya.
bgtu apa adanya dirinya…apa adanya jalannya..
iklas….dalam niatan baiknya..
ku ajari bnyak hal yng dia tak tau..hingga dia bnyak merangkum catatan yg bahkan aku tak mengerti akan maknanya…
bapak tau …apa artinya itu pak….????
dia bukan lagi bahtera pak…dia adalah dermaga tempat memintal benang kusut menjadi sutra cahaya.
tempat menata sajadah di mighrab masjid.
juga tempat kubah2 ditegakkan..

kemuliaan yg pernah kutemui..dia pilar hati…tapi juga selarik benang basah..lemah…
bhkan utuk menjahit bajupun tak mampu.
dimata redupnya aku tangkap asa..
disaat binarnya ada luka..
smua itu karenaku pak…karenaku…

bukankah bapak tau siapa aku dan adaku…
katakanlah pak siapa aku …tolong katakan..
agar jelas bagiku akan halku..akan laku hati jujurku..
bukankah aku tak berbohong paak…
bukankah aku tak membungkus diriku dgn sutra dan emas..
siapa aku pak….siapa…?????”
tanya sipenarik becak yng mulai tak menguasai hatinya.

ada apa denganmu nak…ada apa dng dirimu…? tanya si penjual es lilin pada anaknya..

paakk…,dia sering bertanya akan driku…akan hati dan niatku..
dia belum tau aku pakk…dia belum pahami aku…

”sudah berpuluh kali aku katakan padanya bhwa aku hanyalah penarik becak lusuh dng sandal lobang ditengahnya.
juga sudah kukatakan padanya akan apa yng kudapat dari hasilnya.”
kata sipenarik becak.

”kamu hari ini dapat berapa anakku…????” tanya si penjual es lilin
”16.500 pak…” sahut sipenarik becak…

pak….bgmn aku bisa bahagiakan dia dng hasil yng sebesar itu.
juga, jika bgmn aku sering dapatkan yg lebih rendah dari itu..
bhkan bgmn jika aku sering tak dapatkan apapun utuk hari2 yg lain.
bisakah aku bhgiakannya paakk….
disini….tak ada steak…burger….juga tak ada baju yng stiap minggu selalu baru.
tak ada cinema yg stiap malam minggu jadi tmpat pelepas penat.
tak ada kendaraan besi yng selalu mengantar pergi..

aku hnya punya ini pak…
hnya punya ini…
tempatku utuk tidur saat aku lelah…
tmpat aku menawarkan diri pada orang yng membutuhkan kayuhan kakiku..

lalu….bgmn aku bisa menawarkan bahagia utuknya..
bgmn bisa aku merawat disaat sakitnya…

pak….pualam adalah pualam….itu dia…
dia terus berjalan tanpa hiraukan lepuhan kakinya..
bhkan di telah bersumpah janji akan setianya,,,
tak akan ambil siapapun dan apapun jika anakmu ini tak bisa berjalan dngannya..
dia akan tetap pegang apa yng pernah terucap dan terkatakan..

taukah bapak…betapa bahagiaku dan banggaku akan pualam itu..
kupuja hingga melebihi batas langit..
kusanjung hingga Ars agungnya bergetar..
karenanyalah aku usap kakinya dng air mata terhormatku
kurendahkan mukaku sbatas aku mampu..

lalu….bisakah bapak memberitaukan padaku..
bgmn caraku membahagiakannya dg cara semestiny dia terima..
bgmn cara menjaganya agar dalam tidurnya selalu lelap tanpa ada hewan kecil yng menggunya.
bgmana caraku agar dia selalu mengisi perutnya dgn biasa dan bisaku..
bgmn pak…bgmn…

dia tak kan bisa dng adaku pak..
tak akan bisa..
karena aku tau akan mampu dan bisaku..

cinderella.. putri bersepatu kaca itu akan mengerang ditmpat lusuhku bapak..

pakkk…
bukankah bapak tau….
bgmn anakmu ini mernyimpan hati agar selalu tak trcemari
terjaga bersih…

bukankah bpak tau..
anakmu ini harus menyisihkan jerihnya utuk kekasihnya
walaupun anakmu ini sendri harus meneguk air stiap harinya sbgai pengganjal perut perihnya.
bukankah bapak tau ..
lubang bambu penyangga rumah kita itu tempat menabung hasil jerih payah anakmu..

bukankah bapak tau…itu aku persiapkan utuknya..kekasih anakmu
walau anakmu tak tau bgman cara mebahagiakannya..

lalu…..dalam sedih dan nestapa anakmu..
dalam cinta besar dan tulus anakmu ini…
anakmu takut tak bisa membuatnya tertawa dan tersenyum bahagia di rumah bambu kita
dan…
anakmu ini tak bisa membayangkan pualam itu hrus menikmati seplastik kerupuk dan sesuap
nasi sisa pagi tadi…

oleh karena itulah pak…anakmu ingin pualam itu ada pada bingkai sempurnanya..
hnya itu yang anakmu inginkan..

tapi pak…
janji dan sumpah yg kubungkus dng kristal itu tlah dipecahkanya pak…dipecahkannya..

apa salah anakmu kini ….
apa salah anakmu…
keinginan anakmu tak terpahami…
keinginan anakmu tak terpatri baik…

apakah ini cinta sejati pak..
apa ini cinta abadi..
saling menjaga …apa yng tlah trucap
saling menjaga….apa yng tersepakati

padahal bapak tau…
bgmn anakmu ini menjaga cintanya walau ditengah kayuhan becak tuanya ini

lalu…
apakah yg harus anakmu lakukan kini..
apa pak…
katakanlah…
katakanlah pak…

rintih situkang becak pada si penjual es lilin itu bgtu mematriku
hingga…kaki ini tak mampu beranjak dari serambi tempat berteduhku ini.
ya allah….
ya allah…
kataku lirih tanpa suara…dan betul2 tak mampu bersuara..

naak….,”
kata sipenjual es lilin bergetar..
kini kamu telah pahami….
kenapa bapak tetap membesarkanmu sendiri sampai detik ini..
knapa bapak sampai saat ini selalu menjaga hati bapak tanpa mengenal batas mampu bapak
kini kamu paham anakku..

kisahmu adalah jalan hidup bapakmu anakku..
satu yang bapak ingin sebelum bapak akhiri usia ini

bapak ingin…
dia akan menikmati es lilin ini…
disaat bapak tawarkan di lampu merah seberang jalan itu…

kata terakhir penjual es lilin itu raab….
mengharuskan aku berhenti mendengarkan percakapan itu

tak kuasa aku menahan laju air mata..
berjalan aku pulang menemui anakku yng menungguku dg buku utuk sekolah besuk
dia telah tertidur sendiri dng selimut kumalnya itu..
ku hampiri wajahnya..
pelahan aku usap wajah lelahnya
kubisikkan lirih pada telinga kecilnya..

anakku…..
istirahatlah dng baik…
jika engkau besar kelak…
jagalah apa yng tlah kamu ucap..
simpanlah dng bungkus terbaikmu..
jika perlu..
balurkan darah bersihmu sbgai saksi…
cintamu tulus dan abadi….

( dimbil dari hikayat hati…sebagai catatan terakhir zahra binti maliki )

maafkan aku sahabatku…
aku kini harus menepi….

jika zahra salah…maafku dri lubuk trdalamku..
A note by Zahra binti Maliki @ Facebook

Blogged with the Flock Browser


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s